Monday, 1 October 2012

Kisah Dajjal Dalam Hadis

Pintu Gerbang Lud


Dari An-Nawwas bin Sam’an , dia berkata: Rasulullah menyebut-nyebut perihal Dajjal pada suatu pagi. Beliau menjelaskan Dajjal, kadang-kadang suaranya direndahkan dan kadang-kadang suaranya dikeraskan sehingga kami mengira seolah-olah Dajjal itu sudah ada di tengah-tengah pohon kurma. Maka ketika kami mendatangi tempatnya, beliau bersabda sepertinya telah mengetahui apa yang bergolak dalam perasaan kami, lalu bersabda: “Ada persoalan apa dengan kalian ini?”

Kami menjawab: “Ya Rasulullah, engkau menyebut-nyebut Dajjal pada suatu pagi, engkau merendahkan dan mengeraskan suara sehingga kami mengira bahawa ia sudah ada di tengah pohon kurma.”

Beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang paling aku takutkan menimpa diri kalian. Jika ia keluar dan aku masih ada di tengah kalian, maka akulah yang akan mematahkan hujjahnya untuk melindungi kalian. Dan jika ia keluar dan aku tidak ada di tengah kalian, maka setiap orang menjadi pelindung dirinya sendiri dan Allah adalah penggantiku dalam melindungi setiap orang Muslim.

Sesungguhnya Dajjal adalah pemuda yang rambutnya sangat keriting, matanya menonjol keluar, seolah-olah aku menyamakannya dengan Abdul ‘Uzza al-Qathan. Maka barangsiapa yang dapat bertemu dengannya, hendaklah membacakan kepadanya ayat-ayat permulaan dari surah al-Kahf. Dajjal itu akan keluar di suatu jalanan yang terletak antara Syam dan Irak, lalu membuat kerusakan di sebelah kanan dan kirinya. Maka dari itu, wahai hamba Allah, tetapkanlah keimanan kalian.

Kami para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, berapa lama ia menetap di bumi?”

Rasulullah menjawab: “Empat puluh hari, hari pertama lamanya sama dengan setahun, hari kedua lamanya seperti sebulan, hari ketiga seperti satu minggu, sedang hari-hari berikutnya adalah sama dengan hari-hari kalian saat ini.”

Kami bertanya lagi: “Ya Rasulullah, dalam satu hari yang panjangnya satu tahun itu, apakah kami cukup seperti mengerjakan solat satu hari sahaja (yakni, solat fardhu 5 waktu).

Beliau menjawab: “Tidak, maka perkirakanlah menurut kadar jaraknya masing-masing. Jadi tetap lima kali dalam perkiraan satu hari seperti sekarang.”

Kami bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimanakah kecepatannya menjelajah bumi?”

Beliau bersabda: “Bagaikan hujan yang tertiup angin. Dajjal itu datang kepada suatu kaum, lalu ia mengajak mereka, kemudian mereka pun beriman kepadanya dan patuh pada apa yang dikehendakinya. Ia menyuruh langit supaya menurunkan hujan, lalu turunlah hujan. Ia menyuruh bumi supaya menumbuhkan tanaman, lalu tumbuhlah tanamannya. Selanjutnya, kembalilah ternak-ternak mereka tergembala di situ dalam keadaan berpunuk panjang atau sebesar yang pernah dan terpanjang perutnya.

Selanjutnya, datanglah Dajjal kepada suatu kaum, lalu mereka diajak mengikuti kehendaknya, tetapi mereka menolak, kemudian Dajjal meninggalkan mereka. Kaum yang menolak ini (kerana tegarnya iman mereka) pada keesokan harinya telah menjadi kering daerahnya dan kosong dari rumput dan tanaman lainnya, juga mereka tidak memiliki harta benda sedikit pun. Dajjal lalu berjalan melalui puing-puing kemudian ia berkata: “Keluarkanlah harta-harta simpananmu, tiba-tiba harta-harta di situ dapat diambil dan mengikuti perjalanan Dajjal sebagaimana lebah-lebah mengikuti rajanya.

Setelah itu, Dajjal memanggil seorang pemuda yang masih remaja, lalu ia memukul pemuda ini dengan pedang, sehingga terpotonglah tubuhnya menjadi dua bahagian dengan kecepatan bagaikan lemparan anak panah mengenai sasarannya. Tetapi, Dajjal lalu memanggil pemuda yang sudah mati itu, lalu ia hidup kembali dan menghadapnya, sedang wajahnya berseri-seri  sambil tertawa.

Dalam keadaan itulah, tiba-tiba Allah Ta’ala mengutus Isa al-Masih putera Maryam. Ia turun di menara putih, yang terletak di sebelah selatan Damaskus, iaitu mengenakan dua lembar pakaian yang berwarna, dengan meletakkan dua tapak tangannya di atas sayap dua malaikat. Jika ia menundukkan kepalanya, mencucurlah air dari kepalanya, sedang apabila ia mendongakkannya, maka terurailah rambutnya yang lebat bagaikan butiran mutiara. Maka tiada seorang kafir pun yang dapat mencium aroma nafasnya, melaainkan ia akan mati sedang nafasnya tercium sejauh jarak mata memandang.

Selanjutnya, al-Masih mencari Dajjal sampai ia menemukannya di pintu gerbang Ludd, kemudian  beliau membunuhnya. Selanjutnya, Isa alaihissalam mendatangi kaum yang telah dilindungi Allah dari kejahatan Dajjal, lalu ia meengusap wajah-wajah mereka dan memberitahukan bahawa mereka akan memperoleh derajat yang tinggi dalam syurga.



Dalam keadaan demikian itulah, Allah memberikan wahyu kepada Isa alaihissalam bahawasanya Allah telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tiada seorang pun kuasa untuk menentang dan berperang dengan mereka. Maka kumpulkanlah hamba-hamba-Ku (yang mukmin) ke bukit Thur.
Maka Allah mengutuskan bangsa Yakjuj Makjuj. Mereka turun mengalir dengan cepat sekali dari tempat-tempat yang tinggi. Kemudian berjalanlah barisan pertama dari rombongan mereka di Danau Thabariyah lalu minum airnya, selanjutnya berjalanlah barisan terakhir dari rombongan mereka dan berkata: “Danau ini dulunya masih ada airnya.” Nabiyullah Isa alaihissalam dan para sahabatnya dikepung dari segala penjuru hingga tidak dapat keluar, sampai-sampai nilai satu kepala lembu bagi seorang di antara mereka lebih berharga dari seratus dinar emas bagi seorang  di antara kalian saat ini. Nabiyullah Isa alaihissalam dan sahabatnya radhiayallahu anhum semuanya berdoa merendahkan diri kepada Allah Ta’ala memohon agar kesulitan itu segera dilenyapkan.

Allah Ta’ala mengutuskan ulat kepada bangsa Yakjuj dan Makjuj di leher-leher mereka, kemudian mereka mati serempak bersamaan dalam satu waktu sekaligus tak ubahnya satu jiwa. Nabiyullah Isa alaihissalam dan sahabatnya radhiyallahu anhum lalu turun ke bumi (dari gunung  Thur). Mereka tidak menemukan sejengkal tanah  pun melainkan telah dipenuhi oleh bau busuk dari bangkai mayat bangsa Yakjuj dan Makjuj tadi. Selanjutnya Nabiyullah Isa alaihissalam dan sahabatnya radhiyallahu anhum berdoa lagi kepada Allah Ta’ala sambil memohon agar mayat-mayat mereka dilenyapkan. Allah Ta’ala menurunkan burung sebesar leher unta dan burung inilah yang membawa terbang bangkai mereka lalu melemparkannya di suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah.

Selanjutnya, Allah Azza wa Jalla menurunkan hujan yang menyapu rata semua rumah tanah liat atau pun tenda dari bulu, sehingga bumi itu menjadi bersih licin bagaikan kaca. Kepada bumi lalu dikatakan: “Tumbuhlah buah-buahanmu dan tumpahkanlah keberkahanmu.” Maka pada saat itu sekelompok manusia cukup makandari satu biji buah delima sahaja (kerana amat besarnya). Mereka pun  dapat bernaung di bawah kulit tempurung (kelopak) delima tadi dan diberkahilah air susu, sehingga sungguh seekor unta yang mengandung air susu, dapat mencukupi satu kelompok besar manusia, seekor sapi yang mengandung air susu dapat mencukupi satu kabilah, sedang seekor kambing yang mengandung susu dapat mencukupi satu desa.

Selanjutnya, di waktu mereka dalam keadaan sedemikian, tiba-tiba Allah Ta’ala mengirimkan angin yang sejuk nyaman, lalu angin itu mengambil nyawa kaum mukmin dari bawah ketiaknya. Jadi angin itulah yang mencabut jiwa setiap orang mukmin dan setiap orang Muslim. Lalu yang tertinggal adalah golongan sejahat-jahat manusia, mereka bersetubuh dengan wanita seperti halnya sekelompok keldai. Maka terjadilah Hari Kiamat atas mereka.”.”

[H.R. Muslim (2937)]

Reaksi anda

0 comments:

Post a Comment